shoutbox

Translate

Showing posts with label Teknik Sipil. Show all posts
Showing posts with label Teknik Sipil. Show all posts

11/10/11

Percobaan Teori Bernoulli

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menyelidiki keabsahan teori Bernoulli yang dipakai guna mengkaji aliran air melalui berbagai ukuran diameter pipa bundar. Percobaan ini menggunakan alat peraga teori bernoulli.(Susan Tiara Pusvitasari, S.T.)

Bahan dan Peralatan :

- Satu unit alat peraga teori Bernoulli
alat peraga teori Bernoulli
- Meja hidrolika yang berisi air

- Stopwatch
Stopwatch

- Gelas ukur
Gelas ukur

- Pompa tangan
Pompa tangan

Prosedur Percobaan
  • Menempatkan alat peraga diatas meja hidrolika dengan mengatur kaki penyangga pada kedudukan horizontal yang di waterpass dengan alat ukur penyipat datar.
  • Menghubungkan alat peraga dengan meja hidrolika setelah memasukkan sedikit air ke dalam tampang uji pipa konvergen bersudut 14O sudah searah dengan aliran.
  • Mengisi semua tabung manometer alat peraga dengan air secara perlahan untuk membuang kantong-kantong udara dari sistem tersebut dan memastikan semua pipa penghubungnya telah bebas dari simpanan udara.
  • Dengan mengatur kebutuhan air dari meja hidrolika sambil mengatur katup kendali, aliran alat peraga level muka air dapat dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan kebutuhan. Memakai pompa tangan pada katup pemasukkan udara guna menaikkan tekanan udara diatas cairan. 
    Menaikkan tekanan udara diatas cairan dengan pompa tangan
    e. Mengatur kedua katup kendali yaitu pada meja hidrolika dan alat peraga secara seksama guna memperoleh kombinasi nilai aliran dan tekanan sistem sehingga memberikan perbedaan yang memadai antara level tertinggi dan terendah pada kolom manometer.

    Mengatur kedua katup kendali pada meja hidrolika dan alat peraga
    f. Mencatat bacaan skala pada setiap level manometer, mengambil setidaknya tiga set bacaan volume dan waktu dengan bantuan tangki volumetrik dan stopwatch guna mendapatkan nilai debit aliran.

    Mengambil tiga set bacaan volume dan waktu dengan bantuan tangki volumetrik
    g. Memasukkan alat pantau (probe) ke ujung posisi pipa paralel, kemudian menggerakkan satelit tersebut ke bagian yang lancip sejauh 1cm per satu kali gerakan. Untuk setiap kedudukan satelit, mencatat jaraknya dari ujung bagian paralel dan mencatat pula bacaan level manometernya.

    h. Mengulangi prosedur di atas untuk mendapatkan nilai aliran yang besar dan kecil pada tekanan statis yang tinggi dan rendah dengan kombinasi perbedaan bukaan katup.

    i. Menghentikan pemberian air, menguras air dari alat peraga, mencabut alat pantau, membuka kedua kopling perangkai, membalikkan kedudukan tampang uji dan memindahtempatkan kedua perangkai kemudian mengulangi prosedur di atas.

    Menguras air dari pipa peraga

    Data Hasil Pengamatan

    Data Hasil Pengamatan

    Hasil Perhitungan Debit dan Kecepatan Fluida Level Manometer I
    Hasil Perhitungan Debit dan Kecepatan Fluida Level Manometer II
    Hasil Perhitungan H Teoritis Level Manometer I

    Hasil Perhitungan H Teoritis Level Manometer II

    Hasil Perhitungan Untuk Level Manometer I
    Hasil Perhitungan Untuk Level Manometer II

    10/13/11

    Rumah Minimalis 2 Lantai

    Rumah Minimalis 2 Lantai Dengan Konsep Kotak, Eksterior Minimalis, Rapih dan Nyaman



    9/14/11

    ANALISA HIDROMETRI 151 H

    Bagi praktikan yang melakukan analisa pengendapan  menggunakan hidrometer tipe 151 H, Perhitungan yang digunakan sedikit berbeda dengan yg menggunakan tipe 152 H. Untuk yg menggunakan tipe 151 H, berikut contoh tabel perhitungan beserta keterangan untuk rumus yang dipakai

    Selanjutnya masukkan data dalam perhitungan dan ditabelkan:
    (tabel atas ma bawah nyambung ya...)
    Note :
    Nilai konstanta 'a' juga dapat diperoleh menggunakan tabel
    Data - data yang menggunakan tabel , tabel tersedia pada SNI 3423-2008, yang mau download bisa klik di link ini :

    Oia kLo tulisan diatas gak jelas, contoh tabel diatas jg bisa didownload dalam format Ms Word 2003, kLik aja link di bawah ini:

    Tabel Itungan



    Sifat Fisik Media Porus dan Air

    Media porus dapat berupa lapisan tanah yang terdiri dari butiran mineral dengan ukuran yang bervariasi, Batuan berpori, Geotekstil. Air tanah merupakan sumber suplai air di dunia yang digunakan untuk beberapa keperluan seperti Irigasi, industri, kebutuhan rumah tangga, dll.

    Fenomena aliran air dalam media porus merupakan gabungan dari ilmu geologi, hidrologi, dan mekanika fluida :
    • Geologi : Terjadinya 2 distribusi air tanah
    • Hidrologi : Suplai air ke bawah tanah
    • Mek Fluida : Gerakan air tanah

    Lapis tanah, koefisien permeabilitas dari aliran tergantung dari permukaan spesifik dan tahanan air di aliran disebabkan oleh viskositas dari fluida yang berupa gesekan yang proporsional dengan bidang kontak antara zat cair dengan butiran. Permukaan spesifik tergantung dari diameter butiran tergantung dari distribusi butiran dari media porus untuk suatu kondisi gradasi tertentu permukaan tergantung porositas.

    Untuk batuan, rongga pori harus cukup kecil sehingga aliran air berbentuk laminer. Susunan rongga dianggap beraturan sehingga batuan dianggap mempunyai permeabilitas yang homogeny. Dalam kondisi tersebut batuan dapat dianggap merupakan media porus homogeny sehingga teori yang dikembangkan pada lapisan tanah bias diaplikasikan.

    Air tanah terbentuk pada formasi geologi yang permeable dikenal sebagai aquifers.
    Aquiofers : mempunyai struktur yang memungkinkan terisi air dan mengalir
    Aquiclude : Formasi impermeable yang terisi oleh air tetapi tidak mampu ditransmisi, contoh: Lempung.
    Aquifuge : Formasi impermeable yang tidak mengandung air.

    Dalam suatu lkapisan tanah atau batuan, bagian yang tidak terisi mineral solid, bias terisi oleh air tanah : voids, pori. Pori bias berfungsi sebagai pipa/sarana transport air tanah; yang tergantung pada ukuran, bentuk, distribusi.

    Pori terbentuk oleh beberapa sebab :
    • Proses geologi : Sedimentasi, timbunan lahan
    • Setelah batuan terbentuk : Batuan pecah, tanaman, binatang
    Pori dilihat dari ukurannya :
    • Kapiler, super kapiler, sub kapiler.
    • Kandungan pori dalam tanah/batuan dinyatakan dalam porositas ; presentase dari volume pori dengan volume total dari masa tanah/batuan.
    Φp = 100 . Vv/V

    Dimana :
    Vv = Volume pori
    V = Volume total
    Nilai porositas tergantung pada :
    • Bentuk partikel
    • Derajat kepadatan
    • Distribusi ukuran butir
    Lapisan tanah bawah terbagi menjadi :
    • Daerah saturasi
    • Daerah aerasi
    Daerah saturasi/jenuh air/kenyang air : Seluruh bpori terisi air.
    Daerah aerasi/tidak jenuh/tidak kenyang air : Pori terisi air ddan udara.

    Batas atas daerah jenuh air
    • Lapis Impermeabel
    • Muka air, permukaan phreatis

    Soil Water Zone
    • Air di daerah ini berasal dari hujan/irigasi
    • Ketebalan tergantung tipe/jenis tanah dan tumbuhan
    • Berperan penting dalam pertanian

    Intermediate Zone
    • Ketebalan = 0 Muka air tanah tinggi
    • Ketebalan > 0 Muka air tanah dalam

    Cappilary Zone
    • Ketebalan ditentukan oleh :
    Gaya Tegangan Permukaan Air = Berat Air di Atas M.A.

    2πrb σ cos α = πr2 hc γ
    Nilai tergantung pada komposisi kimiawi dari air dan tanah; secara empiris :

    hc : Inch
    d : mm
    p : Porositas

    Pasir kecil hc => dm
    Lanau D ≈ 0,03 mm hc = 1 m

    Saturated Zone
    • Pada zone ini semua pori terisi air tanah, dimana nilai porositas menunjukkan kandungan air per satuan volume.
    • Tidak semua air tersebut dapat dipindah/diambil dari tanah dengan drainase atau pompa dari sumur, karena adanya gaya-gaya kohesi/adhesi dan tegangan permukaan.
    • Spesific retention dari batuan/tanah : Perbandingan dalam persen dari volume air yang tinggal dengan volume total :
      Sr = 100ωr/V
      ωr = Volume air yang tinggal
      V = Volume total tanah/batuan
    • Sfesific Yield, Sy : Bagian air yang bias didrainase/dipompa
      Porositas efektif
      Sy = 100ωy/V
      ωy = Volume dari air yang didrainase
      p = Sr + Sy
    • Nilai dari Sy tergantung pada ukuran butir, bentuk-bentuk dan distribusi pori, dan tingkat kepadatan.
    • Untuk tanah pasir Sy -30%
    • Untuk tanah alluvial Sy 10-20%
    Formasi batuan atau material tanah yang memberikan sejumlah air dinamakan aquiofer. Air masuk ke aquifer secara \natural atau artificial lewat gravitasi atau diberikan/ditambahkan dengan sumur.
    Aquifer dibedakan dalam unconfined dan confined; tergantung pada ada tidaknya muka air.
    Unconfined aquifer merupakan aquifer dimana muka airnya merupakan batas atas dari saturation zone. Permukaan bebas, phreatis, non artesian aquifer

    Confined aquifer : artesian, preassure aquifer : air tanah berada pada tekanan > tekanan atmosfer.
    Unconfined Aquifer
    Debit yang diambil dari aquifer => perubahan volume tampungan air dalam aquifer :
    Unconfined aquifer : Beda antara m.a pada awal pemompaan => akhir pengambilan
    Comfined aquifer : Perubahan tekanan => perubahan kecil pada volume tampungan air
    · Kapasitas pengambilan air dalam c.a dinyatakan dalam koefisien tampungan : storage : Volume air yang diambil dari aquifer dibagi dengan satuan luas permukaan per satuan perubahan tinggi energy.

    Spring/mata air : debit air tanah yang terkonsentrasi yang keluar lewat permukaan tanah sebagai aliran air.
    Seepage : aliran air tanah yang bergerak dengan kecep[atan rendah keluar/dalam muka tanah.

    Mata air dibedakan :
    • Hasil dari nongravitational forces : Mata air vulkanik : pada batuan vulkanis mata air lewat celah/pori
    • Umumnya temperature air > temperature air luar
    • Bermineral
    • Hasil dari gravitational force : Aliran air pada tekanan hidrostatis.
    Macam :
    Mata air depresi : Terbentuk jika muka tanah bertemu denbgan muka air tanah
    Contact Springs : terbentuk jika ada lapisan tanah permeable di atas lapis kurang permeable yang bertemu muka tanah

    Artesian Springs : Pada Confined aquifer
    hL dapat diperoleh dari persamaan Bernoulli

    Energi dalam media porus kecil

    Kehilangan energy didefinisikan sebagai kehilangan energy potensial yang disebabkan oleh gesekan yang diubah menjadi energy panas.

    hL tidak tergantung pada kemiringan silinder.
    Menurut hokum Darcy

    Q ~ hL Q ~ 1/L

    Q = -KA . hL/L
    Dengan K = Koefisien permeabilitas
    Secara umum ditulis :
    Q = -KA dh/dL

    V = -K dh/dL

    Dengan dh/dL : Gradien Hidraulik = i
    Kecepatan riil bervarisi dari satu titik ke titik yang lain dalam media
    Kec riil => aliran lewat paori > kecepatan fiktif
    - Section : void + partikel
    - Trajek ori : - longitudinal
    - Lateral
    Ø Sebagian voids tidak berhubungan dengan voids lainnya.
    Ø Sulit mengukur section void
    Ø Dipakai v fiktif

    Dalam mencari k : diukur Q, s, i
    v = Q/s k = v/i

    Aplikasi : debit rembesan

    V = k . i
    Q = v . s

    Q merupakan nilai bervariasi meskipun v fiktif

    (Sumber : Handbook Ir. Andius Dasa Putra, M.T. (Dosen Universitas Lampung))

    PERCEPATAN KONSOLIDASI

    Percepatan konsolidasi merupakan suatu proses drainase baik secara vertikal (mono-directional) maupun horisontal yang memanfaatkan kolom-kolom drain agar air dalam pori-pori tanah lebih cepat terevakuasi dengan memanfaatkan aliran air tanah arah horisontal.

    Arah Aliran Air Tanah



    a. Tanpa drainase vertikal
    b. Dengan drainase vertikal

    TIPE DRAIN
    1. Drain Konvensional dari Bahan Granuler
    – Tipe ini sudah lama digunakan dan bahan drai terdiri dari pasir atau kerikil.

    – Diameter drain berkisar antara 18 s/d 45 cm.
    – Kriteria bahan filter alami (Terzaghi, 1921)

    • 4d15 ≤ D15 ≤ 4d85 dengan cu = d60/d10 ≤ 2 (untuk jenis tanah uniform)
    • D15 ≥ 4d15 sifat hidrolis bahan mampu melewatkan air
    • D15 ≤ 4d85 sifat filter bahan mampu menahan butiran
    2. Drain sintetis
    – Magnan (1983) meyatakan bahwa drain sintetis dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori

    • Drain karton
    • Drain plastik
    • Drain dalam bentuk kantong-kantong pasir
    • Drain berbentuk tali dari bahan jute
    POLA JARINGAN DRAIN

    Diameter Efektif Pangaruh suatu Drain Vertikal
    • Diameter efektif pengaruh suatu drain vertikal yang berbentuk suatu kolom drain adalah merupakan diameter rerata dari prisma tanah yang dipengaruhi oleh satu drain.

    • Tipe jaring segi empat : D = 1.13L
    • Tipe jaring segi tiga : D = 1.05L

    Diameter Ekivalen
    • Dalam masalah drain bentuk pita, maka bentuk tampang drain adalah segi empat, sedangkan untuk analisis konsolidasi tanah akibat drainase vetikal digunakan koordinat siliner sehingga bentuk plat perlu diekivalenkan ke bentuk silinder agar dapat menggunakan teori konsolidasi radial. Magnan (1983) menyatakan bahwa :

    – d : diemeter ekivalen (cm)
    – B : lebar drain bentuk pita (cm)
    – Tg : tebal drain bentuk pita (cm)
    Drainase Vertikal
    • Penyelesaian matematis persamaan Terzaghi dengan kondisi batas sebagai berikut :
    – Drainase terjadi ke arah lapisan drainase di atas dan di bawah lapisan tanah kompresibel, bila z = 0 dan z = sH, u = 0.
    – Kelebihan tegangan air pori awal Δu = ui adalah sama dengan pertambahan tegangan tekan (σΔ), bila t = 0, u=ui= σΔ=σ2’ - σ1’


    Panjang Aliran Drainase Vertikal
    a. Kondisi 2 Lapisan Drainase
    b. Kondisi 1 Lapisan Dranase

    • Casagrande (1938) dan Taylor (1948) memberikan pendekatan sebagai berikut :
    – Untuk Uv <>- Untuk Uv > 60% dengan Tv = 1.781 – 0.933log(100-Uv%)
    – Dimana Uv :

    • Brinch Hansen menyederhanakan hubungan antara Uv dan Tv sebagai berikut :

    Hubungan Derajat Konsolidasi (Uv) dan Time Factor (Tv) pada konsolidasi satu arah
    Konsolidasi Radial dan Vertikal
    • Barron (1947), menyatakan bahwa deformasi berbentuk uniform.
    • Prisma tanah yang dipengaruhi oleh satu drain adalah suatu silinder porous
    • Volume air yang di drainase adalah volume air yang berada di dalam silinder.


    • Untuk masalah konsolidasi radial, tegangan total terjadi adalah konstan.
    • Dalam kondisi tersebut maka didapat nilai F(n) sebagai berikut :

    • Kemudian pemecahan konsolidasi radial dari Barron disederhanakan menjadi :

    • Dalam masalah geoteknik, umumnya dinyatakan dalam :
    ___________


    • Carillo (1942) dan Gambin (1985), memberikan teori yang menggabungkan ke dua pemecahan teori konsolidasi vertikal dan radial yang dinayatakan sebagai berikut :




    • Pengaruh hambatan aliran dalam suatu drain, Hansbo (1983) memberikan koreksi terhadap konsolidasi arah radial. Hubungan antara Kapasitas Drainase dan Waktu Reel Konsolidasi



    Hubungan antara Kapasitas Drainase dan Waktu Reel Konsolidasi
    • Umumnya derajat konsolidasi tidak dicari sebesar 100%, tetapi ditentukan untuk waktu reel yang akan dicapai, bila derajat konsolidasi (Uv) berkisar antara 90%-95%.
    • Oostveen (1986), kriteria drain sempurna ditentukan jika kapasitas drainase (qw) dari pada drain tersebut lebih dari 100-1000 kali nilai koefisien permeabilitas horisontal tanah (kh).
    • Hubungan antara Uv dan Tv dapat digunakan tabel atau grafik dari Terzaghi atau menggunakan ekspresi Brinch dan Hansen. 


    sumber



    '>'>